BUDAYA, POPULISME, DAN KEKUASAAN:
MEMBACA FENOMENA KANG DEDI MULYADI DALAM KRITIK SOSIAL
KONTEMPORER
Oleh: Odang Rodiana
11. Pendahuluan
1.1. Tradisi, Teknologi, dan Wajah Baru Kekuasaan
Dalam belantara politik Indonesia, di mana wajah-wajah
kekuasaan kerap bertukar namun wataknya jarang berubah, sosok Kang Dedi Mulyadi
muncul seperti angin segar yang membangkitkan perhatian. Mengenakan pakaian
adat Sunda dengan iket di kepala, berbicara dalam bahasa rakyat, berjalan kaki
menelusuri sungai-sungai kotor untuk menegur pembuang sampah, KDM membangun
citra sebagai pemimpin yang bukan hanya dekat dengan rakyat, tetapi juga
berakar dalam tradisi yang mereka kenal. Ia menjadi semacam ikon lokal yang
menawarkan harapan: bahwa politik tidak harus selalu dingin dan birokratis,
melainkan bisa membumi, mengakar, dan personal.
Fenomena ini menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan
penggunaan media sosial sebagai alat komunikasi utamanya. Di era di mana
algoritma menentukan siapa yang didengar dan siapa yang tenggelam, KDM
memainkan permainan ini dengan piawai. Setiap aksi sosial, setiap petuah
budaya, setiap langkah kecil di lapangan direkam, diedit, dan disebarkan secara
masif. Ia tidak sekadar hadir di dunia nyata, tetapi juga hidup dalam narasi
digital, menjadi produk viral yang dikonsumsi harian oleh jutaan orang. Tradisi
dan teknologi, dua dunia yang kerap dianggap berlawanan, dalam dirinya
menemukan jembatan yang harmonis—atau setidaknya, tampak harmonis di permukaan.
Namun, seperti yang selalu diingatkan oleh para pemikir
kritis seperti Karl Marx, Antonio Gramsci, atau Theodor Adorno, kenyataan
sosial jarang sesederhana apa yang tampak. Budaya bukanlah ruang netral di mana
nilai-nilai luhur diteruskan dari generasi ke generasi tanpa perubahan. Ia
adalah arena pertarungan sengit, di mana kekuasaan, ekonomi, dan ideologi
saling berkelindan untuk menentukan arah masyarakat. Tradisi bisa menjadi alat
pembebasan, tetapi bisa juga menjadi jubah halus yang menyamarkan pelanggengan
ketidakadilan struktural. Teknologi bisa mempercepat transformasi sosial,
tetapi sama mudahnya digunakan untuk memperkuat dominasi lama dengan cara-cara
baru.
Dalam konteks ini, muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana
narasi budaya Sunda dan aktivisme sosial yang dibawa oleh KDM benar-benar
mendorong perubahan struktural yang dibutuhkan masyarakat? Ataukah, di balik
wajah ramah dan bahasa rakyatnya, ia justru mereproduksi bentuk baru dari
hegemoni budaya—membuat struktur lama kapitalistik tampak lebih manusiawi,
lebih tradisional, dan lebih bisa diterima, tanpa benar-benar mengubahnya?
Apakah penggunaan budaya lokal dan media sosial dalam fenomena KDM membuka
ruang emansipasi, atau justru memperdalam integrasi masyarakat ke dalam sistem
kapitalisme digital yang makin halus?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi dasar penyelidikan
dalam esai ini. Dengan menggunakan kerangka teori kritis Marxian—termasuk
analisis tentang ideologi dominan, hegemoni budaya, industri budaya, dan
populisme diskursif—saya akan mencoba membedah bagaimana budaya, populisme, dan
lingkungan digunakan dalam membentuk narasi kekuasaan di era kontemporer. Fokus
utamanya bukan untuk menghakimi sosok Kang Dedi Mulyadi secara personal,
melainkan untuk memahami struktur yang lebih besar di mana fenomena seperti
dirinya lahir, bergerak, dan beroperasi.
Sebab pada akhirnya, memahami fenomena semacam ini bukan
hanya soal membaca satu sosok politik, melainkan tentang membaca zaman. Kita
sedang hidup di era di mana identitas, lingkungan, dan teknologi menjadi arena
pertarungan ideologis baru, di mana bentuk-bentuk dominasi lama bersembunyi di
balik wajah-wajah baru yang lebih memesona. Untuk memahami zaman ini dengan
jernih, kita tidak cukup hanya menjadi penonton yang terkesima; kita harus
menjadi pembaca yang kritis, yang bertanya lebih jauh dari apa yang tampak di
layar gawai kita.
2. Landasan Teoritis
2.1. Membuka Jendela Kritis
2.1.1. Struktur Produksi, Ideologi, dan Dunia Sosial (Karl
Marx dan Friedrich Engels)
Karl Marx tidak pernah menganggap budaya, agama, hukum, atau
bahkan moralitas sebagai sesuatu yang netral. Semua lapisan superstruktur itu,
baginya, adalah pantulan dari struktur ekonomi yang lebih dalam: hubungan
produksi. Dalam The German Ideology (1846), Marx dan Engels menjelaskan bahwa
bukan kesadaran manusia yang menentukan eksistensinya, melainkan eksistensi
sosial mereka yang menentukan kesadarannya. Dengan kata lain, cara manusia
menghasilkan dan mengorganisasi kehidupan material merekalah yang membentuk
pikiran, keyakinan, bahkan impian mereka.
Dalam dunia kapitalisme, relasi produksi dibangun atas dasar
eksploitasi: sekelompok kecil pemilik modal menguasai alat-alat produksi,
sementara mayoritas proletariat hanya memiliki tenaga kerja untuk dijual. Untuk
mempertahankan sistem ini, kapitalisme tidak hanya bergantung pada kekuatan
militer atau hukum, tetapi juga pada produksi kesadaran: membentuk dunia
pikiran rakyat agar menerima ketidakadilan ini sebagai sesuatu yang wajar,
bahkan alami.
Di sinilah ideologi bekerja. Dalam dunia sehari-hari,
ketimpangan material dikamuflasekan lewat berbagai bentuk representasi: budaya
populer, agama, nasionalisme, bahkan lokalitas. Fenomena-fenomena ini tidak
langsung muncul dari "kehendak bebas", melainkan dibentuk secara
historis melalui kebutuhan reproduksi sistem produksi yang dominan. Oleh karena
itu, membaca budaya—termasuk kebangkitan budaya Sunda dalam fenomena KDM—harus
selalu mempertimbangkan konteks hubungan produksi yang melatarbelakanginya. Apakah
budaya itu membuka jalan menuju pembebasan material? Atau justru memperhalus
dominasi kapital?
2.1.2. Hegemoni Budaya dan Konsensus Ideologis (Antonio
Gramsci)
Kalau Marx memberi kita lensa tentang hubungan antara
produksi dan kesadaran, Antonio Gramsci memperdalam analisis itu dengan
mengajukan konsep hegemoni budaya. Dalam Prison Notebooks (1971), Gramsci
menyatakan bahwa di dunia modern, kekuasaan tidak lagi bertahan terutama
melalui paksaan, tetapi melalui persetujuan. Penguasa berhasil
menginternalisasi nilai-nilai mereka ke dalam pikiran masyarakat, sehingga
rakyat menerima sistem yang menindas mereka sebagai sesuatu yang
"normal" atau bahkan "alami".
Gramsci memperkenalkan ide bahwa setiap tatanan sosial
menciptakan "common sense"—pengertian sehari-hari tentang dunia yang
diterima tanpa banyak dipertanyakan. Budaya, pendidikan, agama, media, hingga
simbol-simbol lokal berfungsi membentuk common sense ini. Dengan demikian,
pembentukan budaya lokal bukan semata-mata soal pelestarian, melainkan juga
soal produksi konsensus sosial yang memperkuat status quo.
Dalam konteks Kang Dedi Mulyadi, penting untuk bertanya:
ketika budaya Sunda diangkat ke panggung politik, nilai-nilai apa yang
diperkuat? Apakah ini membangun common sense yang mendorong resistensi terhadap
ketidakadilan struktural, atau justru menghasilkan common sense baru di mana
rakyat bangga pada identitas mereka, tetapi tetap tunduk pada sistem ekonomi-politik
yang eksploitatif?
Gramsci mengingatkan bahwa hegemoni budaya tidak pernah
sepenuhnya stabil. Ia selalu rentan terhadap krisis dan perlawanan. Namun,
memahami bagaimana ia dibangun dan dijaga menjadi kunci untuk membaca arah
perubahan sosial yang mungkin terjadi.
2.1.3. Industri Budaya dan Konsumerisme Kesadaran (Theodor
Adorno dan Max Horkheimer)
Di tengah kemajuan teknologi dan produksi massal di abad
ke-20, Theodor Adorno dan Max Horkheimer dalam Dialectic of Enlightenment
(1944) menawarkan kritik tajam terhadap apa yang mereka sebut industri budaya.
Mereka menunjukkan bahwa di bawah kapitalisme lanjut, budaya bukan lagi arena
ekspresi otonom, melainkan produk massal yang diproduksi, didistribusikan, dan
dikonsumsi layaknya barang dagangan lainnya.
Film, musik, seni rupa, bahkan gerakan sosial, dalam
pandangan Adorno-Horkheimer, mengalami proses standardisasi dan komodifikasi.
Bukannya membebaskan pikiran, budaya populer malah menciptakan bentuk baru dari
kesadaran palsu: menawarkan hiburan yang menenangkan, mengalihkan perhatian
rakyat dari realitas ketertindasan, dan memperkuat reproduksi kapitalisme
dengan cara yang halus.
Dalam dunia hari ini, logika industri budaya semakin
dipercepat oleh media sosial. Video-video viral, kampanye sosial, petualangan
politik berbasis visual semuanya berpotensi menjadi bagian dari mesin ini.
Ketika Kang Dedi Mulyadi mengunggah aksinya membersihkan sungai atau berdialog
dengan warga desa ke YouTube dan Facebook, kita harus bertanya dengan
hati-hati: apakah ini membangun kesadaran kritis? Ataukah ia menjadi bagian
dari industri budaya baru, di mana aktivisme direduksi menjadi tontonan cepat
konsumsi? Pertanyaan ini penting karena dalam logika industri budaya, semakin
kuat ilusi keterlibatan rakyat, semakin efektif sistem mempertahankan dirinya
tanpa perlu kekerasan terbuka.
2.2. Populisme Diskursif dan Ambivalensi Gerakan (Ernesto
Laclau dan Chantal Mouffe)
Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe dalam Hegemony and
Socialist Strategy (1985) memperkenalkan ide bahwa populisme bukanlah sekadar
gaya politik atau strategi retoris, tetapi logika diskursif dalam membangun
identitas kolektif. "Rakyat" dalam populisme adalah hasil konstruksi:
ia diciptakan melalui antagonisme, dengan memisahkan antara "kami"
yang tertindas dan "mereka" yang menindas.
\Populisme, dalam pandangan Laclau dan Mouffe, bersifat
ambivalen. Ia bisa menjadi jalan menuju perubahan radikal jika digunakan untuk
membangun solidaritas melawan struktur ketidakadilan. Tapi sama mudahnya,
populisme bisa menjadi alat kooptasi baru jika "rakyat" yang dibangun
hanya sebatas retorika emosional tanpa perubahan material.
Fenomena KDM yang secara aktif membangun citra sebagai
pemimpin rakyat, sebagai pelindung tradisi lokal, sebagai pejuang lingkungan,
harus dibaca dalam kerangka ini. Apakah populisme yang dijalankan membuka
kemungkinan emansipasi sejati? Ataukah, ia justru berfungsi memperhalus
dominasi, menciptakan rakyat yang merasa berdaya padahal tetap terjebak dalam
struktur ketidakberdayaan kapitalistik? Memahami ambivalensi ini penting agar
kita tidak terjebak dalam glorifikasi buta terhadap semua bentuk politik rakyat
yang tampak merakyat, tetapi diam-diam melanggengkan ketidakadilan.
3. Rekayasa Budaya: Sunda dalam Kemasan Politik
Budaya selalu memiliki kekuatan ganda. Ia bisa menjadi
benteng terakhir perlawanan terhadap dominasi luar, atau sebaliknya, menjadi
alat halus untuk mereproduksi kekuasaan yang ada. Di tangan Kang Dedi Mulyadi,
budaya Sunda tampil ke permukaan dengan penuh kebanggaan. Namun, pertanyaan
krusial yang harus diajukan, seperti yang diajarkan Gramsci dalam analisis
hegemoninya, bukanlah sekadar "apa" yang diangkat, melainkan
"bagaimana" dan "untuk siapa" budaya itu difungsikan.
Dalam gerak politiknya, KDM mengangkat budaya Sunda bukan
sebagai gerakan kontra-hegemonik yang mengusung pembebasan kelas bawah,
melainkan sebagai estetika kekuasaan yang membangun identitas politik baru.
Simbol-simbol seperti iket kepala, baju pangsi, kesenian tradisional, hingga
penggunaan bahasa Sunda halus dalam pidato-pidatonya menjadi ornamen utama. Ia
tidak sekadar mempromosikan budaya sebagai pelestarian identitas, melainkan
merangkainya sebagai narasi politik yang beresonansi dengan sentimen rakyat
tentang kehilangan, nostalgia, dan kerinduan akan keaslian.
Budaya Sunda dalam tangan KDM mengalami seleksi naratif. Ia
mengangkat sisi-sisi budaya yang bisa dipresentasikan sebagai citra positif:
kesederhanaan, gotong royong, harmoni dengan alam. Sisi-sisi lain yang lebih
kritis atau berpotensi subversif—seperti semangat perlawanan dalam tradisi
rakyat Sunda terhadap kekuasaan feodal atau kolonial—secara halus diabaikan.
Ini sejalan dengan kritik Adorno tentang industri budaya: yang dikemas adalah
apa yang nyaman dikonsumsi, bukan apa yang membangkitkan kesadaran kritis.
Lebih jauh, komodifikasi budaya ini tidak berlangsung dalam
ruang hampa. Ia berinteraksi dengan kebutuhan kapitalisme lokal dan nasional
untuk menciptakan ruang-ruang baru bagi reproduksi kapital. Pariwisata budaya,
penguatan identitas lokal untuk stabilitas sosial, hingga pembentukan citra
positif bagi modal untuk berinvestasi di daerah, semuanya berkelindan di balik
perayaan budaya yang tampaknya murni. Dalam hal ini, budaya Sunda beralih dari
arena ekspresi kolektif menjadi produk yang bisa dijual: kepada pemilih, kepada
investor, kepada negara.
Fenomena ini menjadi lebih kompleks jika dilihat dari
kerangka hegemoni Gramsci. Melalui budaya Sunda, KDM membentuk common sense
baru: bahwa pembangunan, kapitalisme, dan modernitas tidak harus berarti
kehilangan akar tradisional. Rakyat diajak merasa bangga, merasa terhubung
kembali dengan identitas mereka, namun tanpa harus menggugat ketidakadilan
struktural yang tetap berlangsung di sekitar mereka. Inilah esensi hegemoni:
persetujuan aktif dari yang diperintah terhadap tatanan yang menindas mereka,
karena tatanan itu dibungkus dalam nilai-nilai yang mereka hormati.
Ironisnya, dalam semangat pelestarian budaya itu sendiri
terkandung potensi pelupaan. Ketika budaya direduksi menjadi simbol tanpa basis
material perjuangan, maka ia kehilangan daya subversinya. Ia menjadi kenangan
kolektif yang indah, tetapi steril; membanggakan masa lalu tanpa menggugat masa
kini. Dalam konteks ini, iket kepala dan pangsi tidak lagi berbicara tentang
keberanian petani melawan tuan tanah kolonial, melainkan tentang estetika yang
cocok untuk panggung-panggung resmi pemerintahan daerah dan feed Instagram.
Sementara itu, dalam logika kapitalisme global, proses ini sangat
menguntungkan. Identitas lokal yang kuat tetapi tidak radikal menjadi alat
penting dalam manajemen sosial. Budaya lokal yang membanggakan diri sebagai
unik dan otentik dapat dikemas dalam paket wisata, dijual sebagai brand city,
atau digunakan untuk membangun citra daerah yang "stabil", "kaya
tradisi", tetapi tetap terbuka bagi investasi. KDM, sadar atau tidak,
telah ikut berperan dalam proses ini: mengubah budaya Sunda dari alat
resistensi menjadi ornamen kapital.
Lebih dalam lagi, ada pertanyaan tentang relasi antara
rakyat dan budaya dalam fenomena ini. Apakah rakyat menjadi subjek yang aktif
dalam pelestarian budaya mereka? Atau sekadar konsumen pasif dari narasi budaya
yang sudah dikemas oleh elite politik? Di banyak kesempatan, tampak bahwa budaya
hadir kepada rakyat dalam bentuk "siap saji"—diperlihatkan melalui
event-event besar, festival, kampanye politik—bukan sebagai bagian dari
kehidupan sehari-hari yang membentuk relasi sosial alternatif terhadap
kapitalisme.
Dalam semua ini, kita bisa melihat betapa budaya, yang dalam
tradisi pemikiran kiri pernah dianggap sebagai benteng penting melawan alienasi
kapitalisme, justru di era kontemporer dapat dijadikan alat untuk memperhalus
alienasi itu sendiri. Rakyat merasa lebih dekat dengan akar mereka, merasa
lebih manusiawi, sementara dalam praktik ekonomi dan politik sehari-hari,
ketidaksetaraan dan eksploitasi tetap berlangsung seperti biasa.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pembacaan kritis terhadap
perayaan budaya sangat penting. Tanpa itu, kita berisiko jatuh dalam perangkap
yang sama yang dikritik oleh Adorno, Gramsci, dan Marx: mempercayai bahwa
perubahan estetika berarti perubahan struktural, padahal yang terjadi hanyalah
pergantian kemasan atas realitas lama yang terus bertahan.
Budaya Sunda dalam politik Kang Dedi Mulyadi, dengan
demikian, menjadi cermin kompleks dari zaman kita: zaman di mana identitas,
sejarah, dan tradisi menjadi bahan baku bagi produksi konsensus baru dalam
dunia kapitalisme yang semakin licin, semakin memesona, dan semakin sulit
digugat.
4. Populisme Digital: Like, Share, dan Kesadaran Palsu
Pada abad ke-21, media sosial telah mengubah tidak hanya
cara orang berkomunikasi, tetapi juga cara mereka memahami dunia, memaknai
politik, bahkan membayangkan keterlibatan sosial mereka. Fenomena Kang Dedi
Mulyadi harus dipahami dalam lanskap ini: bukan hanya sebagai seorang politisi
tradisional yang turun ke lapangan, tetapi sebagai seorang aktor digital yang
sangat memahami logika baru dari produksi kesadaran. Ia bukan sekadar membangun
pencitraan melalui baliho atau koran; ia membangun semesta simbolik yang hidup
di platform-platform seperti YouTube, Facebook, dan Instagram—dimana setiap
like, share, dan komentar bukan hanya tanda keterlibatan, tetapi juga bagian
dari logika produksi kapitalistik baru.
Dalam kerangka kritik industri budaya Adorno dan Horkheimer
(1944), media modern tidak lagi bertujuan membangkitkan kesadaran kritis,
melainkan menciptakan budaya konsumsi di mana setiap produk, termasuk produk
politik, dikemas agar mudah dicerna, menghibur, dan mengkonfirmasi nilai-nilai
yang sudah ada. Dalam dunia ini, bahkan aktivisme sosial, bahkan kritik
terhadap sistem, bisa direduksi menjadi sekadar tontonan cepat konsumsi:
sesuatu yang menimbulkan rasa baik di hati penonton, tetapi tidak menuntut
perubahan struktural nyata.
Kang Dedi Mulyadi mengerti hal ini, mungkin secara intuitif.
Setiap aksinya di lapangan—menegur pembuang sampah, menghibur anak yatim,
membantu pedagang kecil—selalu direkam dengan kualitas visual yang apik, diedit
dengan musik latar yang menyentuh, dan dikemas dalam narasi storytelling
sederhana yang mudah dipahami dan dibagikan. Tidak ada kerumitan struktural di
sana. Tidak ada diskusi panjang tentang sistem ekonomi, hak kepemilikan lahan,
atau peran negara dalam menciptakan ketimpangan. Yang ada hanyalah visualisasi
aksi individu yang membawa perubahan langsung, cepat, dan penuh emosi.
Dalam bahasa industri budaya, ini adalah produksi afeksi:
membangkitkan rasa iba, rasa kagum, rasa haru—semua emosi yang membuat penonton
merasa telah melakukan sesuatu hanya dengan menonton, menyukai, atau membagikan
video tersebut. Ini membentuk kesadaran palsu baru: bahwa perubahan sosial
dapat dicapai melalui perasaan semata, tanpa perlu mengorganisir diri,
menggugat struktur, atau mengubah relasi produksi.
Lebih dalam lagi, pola ini menggeser relasi rakyat dengan
kekuasaan. Di masa lalu, partisipasi politik berarti turun ke jalan, menghadiri
rapat umum, mengorganisir serikat buruh, atau membangun komunitas resistensi.
Hari ini, partisipasi bisa berarti sekadar mengetuk tombol like atau mengetik
komentar dukungan. Ini bukan berarti bahwa teknologi sepenuhnya menghapuskan
kemungkinan resistensi. Namun dalam logika kapitalisme digital, keterlibatan
rakyat justru diproduksi agar tetap pasif: cukup aktif untuk menciptakan data,
trafik, dan engagement, tetapi tidak cukup aktif untuk menggugat sistem secara mendasar.
Dalam konteks ini, populisme digital KDM beroperasi secara
sangat efektif. Ia menawarkan rasa keterlibatan kepada masyarakat—rasa bahwa
mereka "bersama" dalam perubahan sosial, bahwa mereka
"dekat" dengan pemimpinnya, bahwa mereka "berkontribusi" terhadap
perbaikan negeri ini. Namun semua itu terjadi dalam ruang yang telah sepenuhnya
dikuasai oleh logika platform: algoritma menentukan apa yang viral, apa yang
ditonton, dan apa yang terlupakan. Konten yang sederhana, emosional, dan mudah
dibagikan lebih diutamakan daripada analisis yang kompleks, kritis, dan
membangkitkan pertanyaan.
Maka kita melihat paradoks besar: di satu sisi, politik
terasa lebih dekat dan personal dibandingkan era sebelumnya. Di sisi lain,
politik menjadi lebih datar dan terfragmentasi; kehilangan kapasitasnya untuk
membangun kesadaran kolektif yang kritis dan proyek perubahan sosial yang
berjangka panjang. Hubungan antara pemimpin dan rakyat yang dibangun melalui
media sosial bukanlah hubungan politik dalam arti tradisional, melainkan
hubungan afektif yang dimediasi oleh teknologi.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa dalam logika ini,
ketidaksetaraan sosial yang mendalam bisa dengan mudah disamarkan. Ketika
seorang pemimpin hadir di media sosial membantu satu pedagang kecil,
membersihkan satu sungai, atau menghibur satu anak miskin, narasi yang tercipta
adalah narasi perubahan. Padahal sistem ekonomi-politik yang menciptakan
kemiskinan massal, pencemaran lingkungan, dan ketimpangan kekuasaan tetap utuh,
tak terganggu.
Dalam kacamata Gramsci, ini adalah bentuk hegemoni baru:
rakyat tidak hanya menerima struktur sosial yang ada, tetapi merasa terlibat
dalam mempertahankannya, karena mereka diajak merasa menjadi bagian dari
perubahan—meski perubahan itu sebagian besar simbolik. Dalam istilah Adorno,
ini adalah industri budaya yang paling sukses: membuat rakyat merasa bebas
padahal sesungguhnya mereka tetap terbelenggu dalam relasi produksi yang tidak
berubah.
Tentu saja, ini bukan berarti bahwa semua bentuk politik
berbasis media sosial adalah manipulatif atau tanpa harapan. Ada potensi
emansipasi dalam teknologi digital, jika digunakan untuk membangun solidaritas
kritis, mengorganisir gerakan nyata, dan menantang struktur kekuasaan. Namun
fenomena KDM menunjukkan betapa tipis batas antara politik partisipatif dengan
politik konsumtif. Di dunia ini, yang menentukan bukan hanya siapa yang
berbicara, tetapi bagaimana pembicaraan itu diproduksi, dikemas, dan
dikonsumsi.
Membaca Kang Dedi Mulyadi dalam kerangka ini membuat kita
lebih waspada terhadap bentuk-bentuk populisme baru yang beroperasi melalui
teknologi. Ia memperlihatkan bahwa dalam dunia kapitalisme lanjut, bahkan
perubahan sosial pun bisa menjadi sekadar produk visual—disukai, dibagikan,
lalu dilupakan—tanpa pernah menyentuh akar permasalahan yang sebenarnya.
5. Retorika Lingkungan: Antara Emansipasi dan Greenwashing
Lingkungan hidup, dalam beberapa dekade terakhir, telah
menjadi medan naratif yang semakin ramai diperebutkan. Dalam dunia kapitalisme
lanjut, di mana krisis ekologis semakin memburuk namun kesadaran publik juga
meningkat, para aktor politik tidak lagi bisa mengabaikan isu ini. Sebaliknya,
mereka harus menunjukkan, sekurang-kurangnya di permukaan, bahwa mereka peduli,
bahwa mereka melakukan sesuatu, bahwa mereka adalah bagian dari solusi. Di
sinilah retorika lingkungan menjadi penting: bukan hanya sebagai ekspresi
kepedulian moral, tetapi juga sebagai strategi politik dan ekonomi.
Kang Dedi Mulyadi membaca konteks ini dengan cermat. Ia
tampil sebagai sosok yang membela alam: membersihkan sungai, menanam pohon,
berbicara tentang harmoni manusia dengan alam sebagaimana nilai-nilai leluhur
Sunda mengajarkan. Narasi ini kuat, emosional, dan resonan dengan keprihatinan
masyarakat terhadap kerusakan lingkungan yang semakin nyata. Dalam berbagai
aksi lapangannya, KDM tampak berjuang untuk membangun kembali relasi manusia
dengan alam, mengembalikan keseimbangan yang dirusak oleh industrialisasi dan
urbanisasi.
Namun, sebagaimana kritik Marxian mengingatkan kita, penting
untuk membedakan antara ekspresi moral individual dengan perubahan struktural
material. Lingkungan, dalam kapitalisme, bukanlah entitas suci yang dihormati
demi dirinya sendiri. Ia adalah sumber daya: sesuatu yang harus diekstraksi,
dikelola, dan jika perlu, direstorasi, bukan demi keseimbangan ekologis, tetapi
demi kelangsungan reproduksi kapital. Dalam logika ini, peduli pada lingkungan
tidak menghapus kapitalisme; ia justru memperhalus wajahnya, membuatnya tampak
lebih manusiawi, lebih lestari, lebih hijau.
Inilah yang disebut banyak kritikus hari ini sebagai
greenwashing—proses di mana proyek-proyek kapitalistik yang eksploitatif
dilapisi dengan lapisan hijau tipis: taman kota, program tanam seribu pohon,
CSR ramah lingkungan, sertifikasi produk organik, dan seterusnya. Semua ini
menciptakan citra perubahan tanpa mengubah struktur produksi dan konsumsi yang
menjadi akar kehancuran ekologis.
Dalam konteks ini, aksi-aksi lingkungan KDM harus dibaca
dengan hati-hati. Tentu saja, membersihkan sungai atau menanam pohon adalah
tindakan yang baik dalam dirinya sendiri. Namun pertanyaannya, sebagaimana
Gramsci mengajarkan, adalah: bagaimana tindakan-tindakan ini berhubungan dengan
struktur kekuasaan dan produksi? Apakah mereka mengganggu logika kapitalistik
yang mendasari kerusakan lingkungan? Ataukah mereka justru berfungsi sebagai
katup pelepas tekanan, mengalihkan perhatian masyarakat dari akar masalah yang
lebih dalam?
Sejauh ini, narasi lingkungan yang dibawa KDM tampak
beroperasi dalam logika simbolik. Dengan mengangkat aksi-aksi kecil yang
konkret dan emosional, ia membangun rasa bahwa perubahan itu mungkin, bahwa
perbaikan itu terjadi, bahwa ada masa depan ekologis yang lebih baik. Namun
yang nyaris tidak pernah dibahas adalah bagaimana model pembangunan ekonomi
saat ini—termasuk ekspansi industri, agribisnis, pertambangan, dan urbanisasi
masif—terus memperparah krisis ekologis di level struktural. Tidak ada seruan untuk
merevisi logika pertumbuhan tanpa batas yang menjadi jantung kapitalisme. Tidak
ada kritik terhadap penguasaan tanah dan sumber daya oleh segelintir elite.
Tidak ada proyek radikal untuk membangun ekonomi alternatif berbasis
solidaritas ekologis dan produksi berkelanjutan.
Dengan kata lain, yang terjadi adalah estetisasi krisis.
Sungai yang dibersihkan, pohon yang ditanam, foto-foto hijau yang disebarkan di
media sosial menciptakan narasi bahwa dunia sedang diperbaiki, padahal sistem
yang merusaknya tetap berjalan tanpa gangguan berarti. Inilah yang Adorno sebut
sebagai "the culture industry effect" dalam konteks sosial: alih-alih
membangkitkan kesadaran kritis, representasi visual ini justru memperdalam
pasivitas sosial.
Dalam kacamata industri budaya, lingkungan menjadi komoditas
baru: sesuatu yang dapat "dijual" sebagai citra politik, yang
meningkatkan daya tarik personal, yang membangun loyalitas publik. Dan dalam
kapitalisme kontemporer, loyalitas itu bukan hanya penting untuk elektabilitas
politik, tetapi juga untuk menciptakan iklim sosial yang stabil bagi ekspansi
modal.
Mungkin ada yang berargumen bahwa perubahan besar harus
dimulai dari langkah kecil: satu sungai dibersihkan, satu desa diajak menanam
pohon, satu komunitas diajak mencintai alam. Ada benarnya. Tetapi, seperti yang
diingatkan oleh banyak ekolog kritis, langkah-langkah kecil itu haruslah
terhubung dengan proyek perubahan struktural, bukan menjadi pengganti atau
alibi bagi ketidakmauan politik untuk menggugat sistem yang lebih luas. Tanpa
hubungan ini, aksi-aksi lokal, seberapapun tulusnya, hanya menjadi bagian dari
operasi moral kosmetik yang memperpanjang usia kapitalisme ekologis yang makin
destruktif.
Maka, ketika kita menyaksikan aksi-aksi lingkungan KDM, kita
harus mempertanyakan: di mana letak proyek perubahan strukturalnya? Di mana
kritik terhadap industrialisasi tanpa kendali? Di mana pembelaan terhadap
komunitas adat yang tanahnya dirampas atas nama pembangunan? Tanpa itu semua,
retorika lingkungan, betapapun memesona, hanya akan menjadi bagian dari
mekanisme hegemoni baru: mekanisme yang membuat rakyat merasa bahwa mereka
hidup di dunia yang membaik, padahal dunia itu, dalam kenyataannya, semakin
rapuh.
Dalam pembacaan kritis ini, isu lingkungan dalam politik
Kang Dedi Mulyadi bukanlah soal sederhana tentang menghijaukan bumi. Ia adalah
pertarungan ideologis tentang bagaimana kita memahami dunia, tentang apa yang
kita anggap mungkin dan layak diperjuangkan. Di satu sisi, retorika ini membuka
ruang untuk membangkitkan kesadaran ekologis. Tetapi di sisi lain, ia berisiko
besar menjadi anestesi sosial, memperhalus wajah krisis tanpa mengubah mesin
yang terus menggiling bumi dan manusianya.
6. Politik Identitas dan Reproduksi Struktur Sosial
Dalam lanskap politik kontemporer, identitas menjadi salah
satu medan paling sengit dalam pertarungan ideologis. Ia adalah medan di mana
pertempuran lama tentang kekuasaan, penguasaan sumber daya, dan ketidakadilan
kelas dimasukkan ke dalam bentuk baru: bentuk yang lebih simbolik, lebih emosional,
dan lebih personal. Politik identitas, dalam konteks ini, bukan hanya soal
"siapa kita" secara kultural, tetapi tentang "bagaimana kita
membingkai" dunia sosial, "bagaimana kita memosisikan" hubungan
kita dengan struktur kekuasaan.
Fenomena Kang Dedi Mulyadi memperlihatkan dengan gamblang
bagaimana politik identitas lokal—dalam hal ini identitas Sunda—diangkat,
dikemas, dan disebarluaskan sebagai narasi utama politik. KDM tidak sekadar
menjadi politisi; ia menjadi representasi dari "jati diri" Sunda:
seorang pemimpin yang berbicara dalam bahasa ibu, berpakaian dalam busana
tradisional, menggunakan simbol-simbol lokal untuk membangun ikatan emosional
dengan rakyatnya. Dalam permukaan, ini tampak sebagai upaya mulia untuk
menghidupkan kembali identitas lokal yang terpinggirkan oleh modernisasi dan
globalisasi.
Namun, pembacaan kritis ala Marxian mengajarkan kita untuk
tidak berhenti di permukaan. Sebagaimana dinyatakan Gramsci dalam konsep
hegemoni, identitas lokal bukanlah arena netral. Ia dapat digunakan sebagai
alat resistensi terhadap dominasi eksternal, tetapi ia juga dapat direkayasa
untuk memperhalus dominasi internal. Pertanyaannya bukanlah sekadar
"apakah identitas diangkat", melainkan "bagaimana identitas itu
difungsikan dalam reproduksi tatanan sosial".
Dalam kasus KDM, identitas Sunda dikemas dalam narasi
harmoni, kerja keras, kesederhanaan, dan cinta alam. Ini adalah nilai-nilai
yang tentu saja penting dan positif. Tetapi perlu diingat bahwa dalam konteks
kapitalisme, nilai-nilai ini dapat dengan mudah dialihkan dari makna
resistifnya menjadi instrumen stabilisasi sosial. Kesederhanaan bisa berarti
penerimaan terhadap ketimpangan. Kerja keras bisa berarti pembenaran terhadap
ekses eksploitasi tenaga kerja. Cinta terhadap alam bisa berarti greenwashing
dari proyek pembangunan kapitalistik.
Identitas lokal dalam tangan politik hari ini, termasuk
dalam fenomena KDM, menjadi alat pembentukan common sense baru. Ia mengajarkan
kepada rakyat bahwa menjadi "baik" adalah menjadi patuh pada
nilai-nilai budaya, tanpa perlu mempertanyakan ketidakadilan struktural yang
merusak kehidupan mereka. Ia membentuk rasa bangga terhadap jati diri, namun
tidak selalu disertai kesadaran kritis tentang bagaimana struktur kekuasaan
global dan nasional terus mengeksploitasi sumber daya mereka.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Dalam banyak
negara, dari Amerika Latin hingga Asia Tenggara, kita melihat bagaimana
identitas lokal digunakan untuk menutupi fakta bahwa kapitalisme global terus
menggerogoti ekonomi rakyat. Pemerintah dan politisi mengangkat bendera budaya
lokal, festival tradisional, bahasa ibu, sebagai bukti kepedulian terhadap
rakyat, sementara pada saat yang sama, korporasi multinasional merambah lahan,
eksploitasi sumber daya, dan menciptakan ketimpangan baru.
Dalam kerangka ini, politik identitas yang diusung KDM bisa
dibaca sebagai bentuk hegemoni baru: rakyat diberikan ruang untuk merasa bangga
akan identitasnya, namun dalam batasan yang tidak mengguncang tatanan
ekonomi-politik yang ada. Alih-alih membangun kesadaran kelas, identitas
dipakai untuk membangun loyalitas emosional: rakyat tidak didorong untuk
bertanya "mengapa saya miskin?", melainkan diajak merasa bangga
"meski miskin, saya tetap Sunda, saya tetap mulia".
Yang lebih ironis adalah bagaimana budaya lokal, yang
seharusnya menjadi benteng komunitas terhadap kolonialisasi kapital, justru
dijadikan alat untuk menarik investasi. Dalam retorika pembangunan daerah,
identitas budaya dijual kepada wisatawan, dikemas dalam paket budaya untuk
konferensi, festival, dan proyek city branding. Rakyat menjadi penjaga museum
hidup: merayakan tradisi yang telah dikomodifikasi, sambil terus menghadapi
realitas eksklusi ekonomi yang semakin keras.
Dalam pembacaan Adorno, ini adalah puncak industri budaya:
di mana resistensi diubah menjadi bentuk estetis, diproduksi secara massal, dan
dikonsumsi sebagai hiburan tanpa potensi subversif. Dalam istilah Marxian, ini
adalah proses reproduksi struktur sosial melalui naturalisasi hubungan
produksi: rakyat diajak merasa "di rumah" dalam sistem yang
sebenarnya menindas mereka.
Mungkin ada sebagian yang berargumen bahwa menghidupkan
budaya lokal tetaplah langkah penting, bahwa identitas adalah basis penting untuk
membangun resistensi. Ini tidak salah. Identitas, jika dikaitkan dengan proyek
kesadaran kritis dan perubahan material, memang dapat menjadi kekuatan besar.
Tapi kuncinya adalah: apakah politik identitas itu membuka ruang untuk
pertanyaan-pertanyaan kritis tentang kapitalisme, ketimpangan, dan struktur
produksi? Atau justru menutupnya dengan lapisan tebal romantisme budaya?
Dalam kasus KDM, ada banyak indikasi bahwa politik identitas
Sunda berfungsi lebih sebagai stabilisator sosial daripada sebagai alat
emansipasi. Identitas dipertahankan, dirayakan, tetapi dalam bentuk yang telah
terpisah dari perjuangan kelas. Ia menjadi estetika yang menyenangkan, bukan
senjata yang membebaskan.
Dengan demikian, pembacaan kritis atas politik identitas
dalam konteks ini mengajarkan satu hal penting: bahwa perlawanan sejati tidak
bisa berhenti pada afirmasi identitas. Ia harus melanjutkan langkahnya ke medan
yang lebih berat: medan perjuangan untuk mengubah struktur material yang terus
menciptakan ketidakadilan. Tanpa itu, identitas, seindah apapun, hanya akan
menjadi ornamen lain dalam taman kapitalisme global yang terus memperluas
kekuasaannya.
7. Menuju Politik Emansipasi: Peluang dan Tantangan
Di tengah kompleksitas politik budaya, populisme digital,
dan komodifikasi lingkungan yang telah kita telaah sebelumnya, muncul
pertanyaan penting yang tidak bisa dihindari: apakah masih ada ruang emansipasi
sejati dalam fenomena seperti Kang Dedi Mulyadi? Apakah, di balik segala
reproduksi hegemonik yang terjadi, masih terdapat potensi untuk mendorong
perubahan struktural yang lebih radikal? Ataukah semua sudah tenggelam dalam
pusaran estetika kapitalisme dan logika industri budaya?
Membaca fenomena KDM dari perspektif kritis tidak berarti
menutup mata terhadap kemungkinan-kemungkinan kecil yang tetap ada. Bahkan
dalam kerangka Adorno yang sangat pesimistis terhadap industri budaya, selalu
tersisa celah-celah kecil untuk pembangkangan: momen-momen ketidakcocokan,
gangguan kecil dalam sistem, retakan-retakan dalam konsensus hegemonik. Dalam
kasus KDM, misalnya, penggunaan bahasa Sunda di ruang-ruang publik,
pengangkatan nilai harmoni dengan alam, atau keterlibatan langsung dalam
isu-isu sosial, bisa menjadi bahan mentah untuk membangun kesadaran kritis—jika
dikembangkan dengan cara yang tepat.
Identitas budaya yang diangkat KDM, meski dalam banyak kasus
terjebak dalam estetisasi, tetap membawa potensi emansipatoris jika diarahkan
bukan sekadar untuk nostalgia, tetapi untuk membangun kesadaran historis:
kesadaran bahwa masyarakat Sunda, seperti banyak komunitas lokal lainnya, telah
lama menjadi korban eksploitasi ekonomi-politik yang dibungkus dalam
modernisasi paksa. Kesadaran ini bisa menjadi titik tolak untuk membangun
gerakan resistensi yang lebih radikal: gerakan yang tidak hanya membanggakan
masa lalu, tetapi juga berjuang untuk masa depan yang lebih adil.
Demikian pula dengan isu lingkungan. Kampanye penghijauan
dan penyelamatan sungai, jika dibebaskan dari logika greenwashing dan diarahkan
pada kritik struktural terhadap sistem produksi kapitalistik, bisa menjadi
basis bagi gerakan ekologi radikal. Gerakan yang tidak hanya membersihkan
sungai yang tercemar, tetapi juga menggugat sistem ekonomi yang memungkinkan
pencemaran itu terus terjadi. Gerakan yang tidak hanya menanam pohon, tetapi
juga membangun solidaritas antara komunitas lokal untuk mempertahankan tanah,
hutan, dan sumber air mereka dari serbuan kapital.
Namun, untuk membawa potensi-potensi ini menjadi gerakan
emansipasi sejati, ada tantangan besar yang harus dihadapi. Pertama-tama adalah
tantangan kesadaran. Dalam dunia di mana industri budaya dan media sosial
membanjiri masyarakat dengan informasi dangkal dan emosional, membangun
kesadaran kritis adalah tugas yang berat. Dibutuhkan pendidikan politik,
diskusi kolektif, organisasi akar rumput yang mampu menembus ilusi keterlibatan
palsu yang diproduksi oleh algoritma platform digital.
Tantangan kedua adalah tantangan organisasi. Kesadaran
kritis, tanpa organisasi politik yang mampu mengartikulasikan aspirasi rakyat
menjadi kekuatan kolektif, akan mudah terfragmentasi dan digiring kembali ke
dalam arus utama kapitalisme. Dibutuhkan struktur politik yang mampu
menghubungkan identitas budaya lokal dengan perjuangan kelas, yang mampu
menjembatani antara kebanggaan lokal dan tuntutan perubahan struktural global.
Tantangan ketiga adalah tantangan representasi. Bagaimana
menghindari perangkap estetisasi baru dalam memperjuangkan identitas dan
lingkungan? Bagaimana memastikan bahwa budaya dan ekologi tidak hanya menjadi simbol,
tetapi benar-benar menjadi basis material perjuangan? Ini membutuhkan kerja
politik yang sabar, jangka panjang, dan seringkali sunyi: membangun komunitas,
mengorganisir solidaritas, menciptakan ruang alternatif untuk hidup dan
berproduksi.
Dalam konteks ini, fenomena KDM bisa dilihat sebagai titik
awal, bukan titik akhir. Ia membuka percakapan tentang identitas, budaya, dan
lingkungan ke ruang publik. Tugas kaum progresif adalah mengambil alih
percakapan ini, mengisinya dengan analisis kritis, dan mengarahkannya ke agenda
perubahan yang lebih radikal. Ini berarti tidak sekadar mengkritik sosok KDM,
tetapi menggunakan momentumnya untuk memperluas medan perjuangan: dari sekadar
bangga menjadi Sunda, menjadi sadar akan struktur kekuasaan yang menindas; dari
sekadar mencintai sungai, menjadi berani menggugat kapitalisme yang mencemari.
Sebagaimana diingatkan Marx dalam The German Ideology,
perubahan sejati bukan hanya soal mengganti ide di kepala orang, tetapi soal
mengubah kondisi material kehidupan mereka. Emansipasi berarti membangun dunia
di mana manusia tidak lagi menjadi alat produksi, di mana alam tidak lagi
menjadi objek eksploitasi, dan di mana identitas budaya menjadi kekuatan
pembebasan, bukan kosmetika dominasi.
Ini adalah tugas besar. Tapi dalam setiap retakan kecil di
dalam struktur hegemonik, selalu ada kemungkinan: kemungkinan untuk melampaui,
untuk membongkar, untuk membangun dunia yang lebih adil. Politik emansipasi,
pada akhirnya, selalu tentang membaca kemungkinan itu di tengah reruntuhan
janji-janji palsu.
8. Penutup: Membaca Politik Budaya di Era Kapitalisme
Digital
Fenomena Kang Dedi Mulyadi adalah cermin zaman. Ia
memperlihatkan kepada kita bagaimana, dalam dunia kontemporer yang dibentuk
oleh kapitalisme global, budaya, identitas, lingkungan, dan bahkan narasi
perubahan sosial diproduksi, dikemas, dan didistribusikan sebagai komoditas. Ia
menunjukkan bahwa bahkan niat-niat terbaik—merawat tradisi, menyelamatkan
lingkungan, mendekatkan politik kepada rakyat—tidak bisa dilepaskan begitu saja
dari struktur kekuasaan dan produksi yang membentuk dunia kita hari ini.
Dalam bacaan kritis berbasis teori Marxian, Gramscian, dan
Adornian, kita menemukan bahwa budaya Sunda yang diangkat KDM bukanlah arena
netral. Ia telah direkayasa sedemikian rupa untuk membentuk common sense baru:
rasa bangga terhadap identitas lokal yang harmonis dengan sistem kapitalistik
global. Ia bukanlah budaya yang membangkitkan perlawanan terhadap
ketidakadilan, melainkan budaya yang memperhalus wajah kapitalisme, membuat
eksploitasi tampak lebih manusiawi, lebih akrab, lebih "kita".
Melalui populisme digital, kita melihat bagaimana politik
diubah menjadi tontonan. Aksi sosial dikemas menjadi klip-klip singkat yang
emosional, disebarkan melalui algoritma, dikonsumsi secara cepat, dan dengan
demikian kehilangan potensi untuk membangun kesadaran struktural yang kritis.
Seperti yang diingatkan Adorno, industri budaya telah berhasil menciptakan
bentuk baru dari kesadaran palsu: kesadaran yang merasa terlibat padahal tetap
pasif, merasa kritis padahal tetap terkooptasi.
Isu lingkungan yang diangkat KDM, alih-alih membongkar akar
krisis ekologis dalam logika produksi kapitalistik, lebih sering beroperasi
dalam logika greenwashing. Ia menjadi lapisan hijau tipis di atas mesin
industrialisasi yang tetap berjalan. Dengan membersihkan sungai, menanam pohon,
dan membangun narasi ekologis tanpa kritik terhadap struktur ekonomi-politik,
kapitalisme diperhalus tampilannya, bukan diubah substansinya.
Politik identitas, yang seharusnya dapat menjadi sumber
energi untuk resistensi, dalam banyak kasus berfungsi sebagai mekanisme
stabilisasi sosial. Budaya Sunda dibangkitkan bukan untuk membangun kesadaran
kelas, melainkan untuk membangun loyalitas emosional terhadap sistem yang tidak
berubah. Seperti yang Gramsci peringatkan, hegemoni budaya bekerja bukan dengan
paksaan, tetapi dengan persetujuan: rakyat merasa menjadi bagian dari dunia
ini, bahkan ketika dunia ini terus menindas mereka.
Namun demikian, pembacaan kritis ini juga mengajarkan kita
bahwa dalam setiap fenomena hegemonik selalu tersisa retakan. Retakan itulah
ruang bagi politik emansipasi. Kesadaran identitas lokal, kecintaan terhadap
alam, keterlibatan melalui media sosial—semuanya bisa menjadi titik awal untuk
membangun gerakan perubahan sejati, jika dihubungkan dengan kesadaran
struktural dan proyek politik yang lebih radikal.
Tugas kita, sebagai pembaca kritis zaman ini, bukan hanya
mengkritik, tetapi juga membayangkan dan membangun alternatif. Kita harus
bertanya: bagaimana mengubah narasi identitas menjadi basis perjuangan kelas?
Bagaimana mengubah cinta terhadap lingkungan menjadi gerakan ekologi radikal?
Bagaimana mengubah keterlibatan digital menjadi solidaritas nyata?
Membaca fenomena Kang Dedi Mulyadi dalam kerangka ini adalah
latihan untuk melihat dunia lebih jernih. Dunia di mana kekuasaan tidak lagi
hanya bertumpu pada senjata dan uang, tetapi pada simbol, emosi, dan
representasi. Dunia di mana perlawanan tidak cukup hanya mengubah ide, tetapi
harus mengubah struktur.
Seperti yang ditulis Marx dalam Tesis tentang Feuerbach,
para filsuf hanya menafsirkan dunia dengan berbagai cara; yang penting adalah
mengubahnya. Maka membaca KDM bukan akhir dari perjalanan kita. Ia hanya awal
dari pertanyaan yang lebih besar: Bagaimana, di zaman di mana budaya, politik,
dan perubahan dikomodifikasi, kita tetap bisa membangun dunia baru—dunia yang
sungguh adil, sungguh bebas, sungguh manusiawi?
Jawaban atas pertanyaan itu tidak ada dalam video yang kita
tonton, tidak dalam pidato yang kita dengar, bahkan tidak dalam teks yang kita
baca ini. Jawaban itu hanya bisa lahir dari tindakan kolektif: dari gerakan
yang sabar, gigih, kritis, dan penuh harapan. Dan itulah, mungkin, pelajaran
terbesar dari pembacaan ini.
_//_
9. Daftar Pustaka
9.1. Sumber Teori Utama:
Adorno, T.W. & Horkheimer, M., 1944. Dialectic of
Enlightenment. New York: Herder and Herder.
Gramsci, A., 1971. Selections from the Prison Notebooks.
Edited and translated by Q. Hoare and G. Nowell Smith. New York: International
Publishers.
Laclau, E. & Mouffe, C., 1985. Hegemony and Socialist
Strategy: Towards a Radical Democratic Politics. London: Verso.
Marx, K. & Engels, F., 1846. The German Ideology.
Moscow: Progress Publishers.
Marx, K., 1845. Theses on Feuerbach. In: Marx, K. &
Engels, F., Selected Works. Moscow: Progress Publishers.
9.2. Sumber Teori Tambahan:
Hall, S., 1992. Cultural Studies and Its Theoretical
Legacies. In Cultural Studies, eds. L. Grossberg, C. Nelson, and P.A.
Treichler. New York: Routledge.
Harvey, D., 2010. The Enigma of Capital and the Crises of
Capitalism. Oxford: Oxford University Press.
Žižek, S., 2008. Violence: Six Sideways Reflections. New
York: Picador.
Mouffe, C., 2000. The Democratic Paradox. London: Verso.
Sumber Konteks Lokal dan Aktualisasi Fenomena:
Klikbogor.id, 2025. Fenomena Kang Dedi Mulyadi: Pendekar
Penjaga Alam. [online] URL https://klikbogor.id/fenomena-kang-dedi-mulyadi-kdm-pendekar-penjaga-alam/
[Diakses pada 27 Apr. 2025].
Tributeasia.com, 2025. Dedi Mulyadi, Fenomena Baru Kepala
Daerah di Jawa Barat. [online] URL:
https://tributeasia.com/index.php/2025/02/20/dedi-mulyadi-fenomena-baru-kepala-daerah-di-jawa-barat/
[Diakses pada 27 Apr. 2025].
Haibandung.pikiran-rakyat.com, 2025. Tradisi Lokal Dianggap
Syirik, KDM: Kenapa yang dari Timur Tengah Boleh? [online] URL:
https://haibandung.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-2949146579/tradisi-lokal-dianggap-syirik-kdm-kenapa-yang-dari-timur-tengah-boleh
[Diakses pada 27 Apr. 2025].
4) Jawapos.com, 2025. Lewat Wayang Golek, Dedi Mulyadi Ajak
Lestarikan Alam dan Nilai Sunda. [online] URL:
https://www.jawapos.com/berita-sekitar-anda/015932222/lewat-wayang-golek-dedi-mulyadi-ajak-lestarikan-alam-dan-nilai-sunda
[Diakses pada 27 Apr. 2025].
5) Regional.kompas.com, 2025. Analisis Narasi dan Komunikasi
Populisme Dedi Mulyadi. [online] URL:
https://regional.kompas.com/read/2025/03/24/14010801/analisis-narasi-dan-komunikasi-populisme-dedi-mulyadi
[Diiakses pada 27 Apr. 2025].


