Terkini Lagi

Iklan

Dibalik Kemenangan 02 Dalam Pilkada Karawang 2024

Admin
Jumat, 29 November 2024, 09:05 WIB Last Updated 2024-11-29T02:23:52Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


Ditulis oleh: Odang Rodiana

Paska kemenangan Quick Count 02, euforia mulai mereda. Poster-poster yang basah oleh hujan kemarin masih menempel di dinding-dinding kota, sebagian robek, sebagian lain kusut. Orang-orang kembali ke rutinitasnya, seolah kemenangan di TPS sudah cukup untuk menebus persoalan yang membelit hidup mereka. Namun, di balik keheningan ini, pertanyaan besar tetap menggantung di udara: apa yang sebenarnya berubah?


Mengalahkan 01 memang langkah penting. Itu adalah cara untuk menyingkirkan figur kekuasaan yang terang-terangan memihak borjuis reaksioner, yang menghalangi cita-cita landreform dan menindas gerakan rakyat kecil. Tapi apakah 02 benar-benar sebuah kemenangan, atau sekadar pengalihan narasi kekuasaan dari tangan yang satu ke tangan yang lain?


Hari ini, diseberang Jalan Baru Karawang seorang petani berdiri di tepi sawahnya, menatap tanah yang bukan miliknya. Bibit padi yang ia tanam kemarin menggantung harap pada hujan berikutnya. Ia tahu, tanah ini tetap milik tuan tanah yang tak pernah terlihat, yang hanya hadir lewat surat sewa dan tuntutan panen. Kemenangan politik tak membuat sawah itu menjadi miliknya, seperti halnya janji-janji reformasi belum pernah sampai ke ladangnya.
Di pabrik-pabrik kecil, buruh-buruh sudah kembali ke mesin-mesin mereka. Jam kerja panjang dengan upah yang tetap tak mencukupi untuk lebih dari sekadar bertahan hidup. Tidak ada yang berubah. Manajer tetap memandang mereka sebagai angka dalam laporan produksi. Bos besar tetap berbicara tentang efisiensi, bukan tentang kehidupan mereka yang bekerja di balik roda kapitalisme.


Mengandalkan 02 untuk perubahan sosial ibarat menunggu air mengalir ke hulu. Mereka, meskipun borjuis yang lebih "manusiawi," tetap menjadi bagian dari struktur kekuasaan yang sama. Sistem tidak berubah hanya karena figur di pucuknya berganti. Para pekerja, para petani, proletar yang menjadi tulang punggung masyarakat, tetap terjebak dalam siklus eksploitasi yang sama.


Kunci perubahan sosial tidak berada di tangan seorang bupati, gubernur, atau presiden. Perubahan hanya akan terjadi jika para produser—mereka yang menciptakan nilai melalui kerja—berdiri bersama melawan mereka yang memonopoli alat produksi. Kendali atas nilai kerja dan distribusi harus direbut, bukan diberikan. Revolusi sejati tidak datang dari surat suara, melainkan dari solidaritas dan perlawanan yang tumbuh di ladang-ladang, di ruang-ruang kerja, dan di jalanan.


Paska Pilkada ini adalah pengingat bahwa kemenangan politis hanyalah langkah kecil dalam perjalanan panjang. Tugas kita belum selesai. Rakyat pekerja harus terus menyuarakan hak mereka, memperkuat posisi mereka, dan menantang sistem yang membuat mereka terpinggirkan. Tanpa itu, paska Pilkada hanyalah ilusi, sebuah pesta kosong yang tidak meninggalkan apa pun selain janji-janji yang tak pernah ditepati.


Perubahan sosial sejati tidak lahir dari euforia politik, tetapi dari perjuangan yang gigih dan tanpa henti. Hari ini adalah awal, bukan akhir.

Komentar

Tampilkan

Resensi

+