Tingginya tingkat kemiskinan bukan perkara data semata. Bukan
pula disebabkan pandemi C19. Kemiskinan bukanlah sebuah istilah baru. ia telah
lama muncul dalam peradaban umat manusia seiring dengan sebagian manusia itu
sendiri meninggalkan corak kehidupan komunal untuk kemudian mengusung cara
pandang kepemilikan pribadi. Ciri komunitas tradisonal yang setara baik dalam
hak maupun kewajiban seperti melakukan seluruh pekerjaan secara bersama-sama
dan membagi hasil yang didapat secara merata dipandang tak lagi relevan dalam
perkembangan masyarakat kedepan. Pembelahan aktivitas komunal dalam skala kecil
dan kekuatan untuk menaklukkan komunal/kelompok lain dalam perebutan wilayah
perburuan dan tanah peladangan/pertanian kemudian menjadi sumber alasan
terciptanya dominasi antar manusia yang dibedakan berdasarkan kelompok komunal
dan gender. Pada tahap inilah mulai berlangsung ketimpangan akses terhadap
sumber-sumber makanan dan tempat tinggal dalam sistem perbudakan. Para budak taklukan
melakukan kerja produksi untuk diabdikan kepada tuan budak. Sehingga kondisi
para budak hidup penuh derita sementara tuan budak bergelimang kekayaan yang
diperoleh dari hasil kerja para budak. Pada masa inilah penderitaan para budak secara ekonomi diasosiasikan kedalam dikotomi
ketimpangan antara miskin dan kaya.
Sejak itu hingga sekarang dikotomi dalam ketimpangan sosial
terus berlangsung demikian abadi sesuai dengan perkembangan sistem masyarakat
yang lebih kompleks.
Elaborasi Makna
Kemiskinan
Diera modern ini tak sedikit orang yang mendefinisikan
kemiskinan sebagai sebuah masalah sosial sekaligus menawarkan strategi
penanggulangannya.
Pernyataan wapres Ma'ruf Amin mengenai kemiskinan ektream di Jawa
Barat yang dijuarai Karawang, membuat Bupati Karawang demikian panik dan tentu
kehilangan muka. Agar tidak terus menerus kehilangan kepercayaan publik,
Cellica dengan cukup sigap bertindak. Langkah pertama yang diambil adalah
"menyatakan" keraguan terhadap data yang dikeluarkan BPS yang lalu
diikuti dengan rencana memanggil 25 kepala desa yang desanya masuk dalam sample
kriteria miskin ekstrim.
Keraguan Cellica pada data BPS serta upaya guna memperoleh
dukungan premis, ia menyodorkan argumentasi kinerja yang menyangkut distribusi
bantuan sosial. Hal demikian tentu akan mengungkap setidaknya dua hal besar. Pertama, ibarat pepatah "menepuk
air di dulang terpercik muka sendiri". Dengan memanggil 25 kepala desa
untuk meminta data kemiskinan ektrim, menandakan bahwa pemerintah daerah selama
ini mengekspos keburukannya dalam hal data. Kedua,
Distribusi program bantuan sosial (Politik Etis) seperti BLT, BPNT, PKH, UMKM,
Rulahu, UMKM, Kredit Lunak, Beras dll menunjukkan ketidakefektifannya sebagai
sesuatu yang bersifat konsumtif.
Langkah bupati dalam menyikapi fenomena kemiskinan ekstrim di
Karawang sesaat setelah munculnya pernyataan wakil presiden kemudian
mengemukakan pertanyaan cukup provokatif, apakah bupati akan bermain-main
dengan statistik untuk menutupi rasa malunya? sedang argumentasi utamanya
berkutat pada perkara program belas kasihan/politik etis yang terbukti
gagal.
Pernyataan Cellica mengenai keraguannya terhadap data BPS tak
lebih hanya upaya menyajikan kembali perdebatan dan diskursus usang mengenai kategori
tingkat kemiskinan “Absolut” dan “Relative” atau kemiskinan “Material” dan
“Non-Material”. Diskursus ini mengarah pada Kategorisasi garis kemiskinan yang diukur
berdasarkan asset yang dimiliki seseorang dan tingkat pendapatannya; distribusi
pendapatan antar lapisan social; kelemahan menajerial
individu dan tidak dimilikinya jaringan sosial yang luas; keyakinan terhadap
hukum ilahiyah yang menyangkut ketentuan-ketentuan nasib dan takdir. Sehingga
kemiskinan itu merupakan masalah manusia yang disebabkan kemalasan serta
kurangnya kemauan individu berjuang untuk menjangkau taraf hidup yang lebih
baik. Diskursus serta perdebatan garis kemiskinan sebagaimana tersebut di atas
sampai pada diskursus “level kemiskinan ekstrim” jelas mengandung resiko besar karena
bisa meloloskan tanggung jawab Negara.
Dengan begitu, perihal program-program belas kasihan jelas diabstraksi
Cellica sebagai “politik etis” dalam penanggulangan kemiskinan namun sebetulnya
hanya bertujuan untuk mengecoh perhatian kita terhadap seluk beluk kemiskinanan itu
sendiri. Dan jika demikian maka
mengamini pernyataan Cellica atas keraguannya terhadap data BPS dalam menyikapi
kemiskinan ekstrim juga mengandung bahaya.
Kapitalisme Neoliberal
Sebab Musabab Kemiskinan
Dialam masyarakat kapitalisme, kemiskinan masyarakat menjadi
salahsatu bentuk tajam dari buah cara kerja kapital. Dalam gambaran sederhana
kapitalis akan menggerakkan modalnya untuk mencapai tujuan super profit
(akumulasi modal) dengan cara mencuri nilai kelebihan produksi dari tangan kaum
buruh. Sementara negara dalam hal ini pemerintah telah secara efektif menjadi jaring
pengaman modal. Segala sesuatu yang sekiranya menjadi hambatan dalam proses
akumulasi capital akan dijinakkan oleh negara termasuk bila terjadi perlawanan
kaum buruh yang marah karena hasil kerjanya telah dicuri melalui waktu kerja,
kebijakan upah murah dan sistem kerja outshourcing/magang. Namun diketahui, hubungan
kerja seperti inilah yang membuat kaum buruh tidak secara mudah mengakses berbagai kebutuhan yang
merupakan kebutuhan pokok, termasuk pendidikan, kesehatan, dan rumah yang
layak. Atau dalam arti lain dapat dikatakan kaum buruh hidup dalam kemiskinan.
Dalam rangka pelipatgandaan modal, kapitalis tidak saja berada dalam
hubungan yang antagonistik dengan kaum buruh. Ia telah memposisikan negara untuk
tunduk pada programnya yang dikenal sebagai neoliberalisme. Melalui belenggu
utang, neoliberalisme akan dengan mudah mendikte Negara untuk melakukan sejumlah
kebijakan diantaranya: privatisasi BUMN, pencabutan subsidi, deregulasi pasar, dan
pengampunan pajak.
Penetrasi capital yang begitu massif ke ruang-ruang hidup pedesaan dengan
komodifikasi sumber-sumber agraria menjadi komoditi agar memiliki nilai tukar
semakin mempertajam konsentrasi penguasaan sarana-sarana produksi sosial
ditangan segelintir orang kaya yang
kemudian menciptakan apa yang disebut proletarianisasi. Transisi agraria
ke industri kapitalis ini memberi patokan untuk melacak kemiskinan desa hingga
pada awal kemunculannya dimasa lampau.
Hal-hal yang melukiskan kemiskinan di atas penting dikemukakan untuk
memberikan kerangka acuan berpikir kita bahwa dalam sejarah peradaban manusia kemiskinan
diciptakan secara struktural bukan karena nasib apalagi mentalitas seseorang. Kemiskinan
terjadi karena penguasaan sumber-sumber kekayaan dan sarana-sarana produksi
berada ditangan segelintir orang sehingga sebagian besar orang kesulitan
memperoleh kesempatan untuk memenuhi berbagai kebutuhan yang merupakan kebutuhan pokok, termasuk pendidikan,
kesehatan, dan rumah yang layak dibawah neoliberalisme. Sampai sini kita bisa
simpulkan bahwa kemiskinan yang berlangsung merupakan kemiskinan struktural.
Bagaimana solusi dari kemiskinan
struktural?
Solusi dari kemiskinan bukanlah program belas kasihan atau politik
etis seperti yang diyakini Cellica benar. Oleh karenanya cara menanggulangi
kemiskinan struktural mesti diletakkan pada dimensi yang juga bersifat
struktural, yakni merombak sistem ekonomi kapitalisme yang mengusung penguasaan
sarana-sarana produksi secara privat untuk tujuaan akumulasi menjadi akses
bersama yang bersifat sosialistik.


