Terkini Lagi

Iklan

Mudik Suatu Perjalanan Spiritual

Admin
Kamis, 06 Mei 2021, 16:20 WIB Last Updated 2024-01-14T03:36:03Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini



Mudik secara harfiah berasala dari kata Udik (Selatan) anonim dari kata Ilir (Utara). Udik atau selatan diidentikan dengan dataran tinggi atau hulu. Dalam hal ini mudik bisa diartikan kembalinya seseorang ke lingkungan asal, ibarat air yg mengalir ke dataran yang lebih rendah.

Tradisi Mudik sebenarnya adalah tradisi mengunjungi kampung halaman untuk sekedar melepas rindu dengan lingkungan sosial dan alam kampung halaman/asal.

Berdasarkan Wikipedia, pengertian mudik adalah kegiatan perantau/pekerja migran untuk pulang ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang Lebaran.

Terjadinya mudik biasanya dikarenakan seseorang melakakuan pencarian kerja/mata pencaharian di daerah lain yang lebih banyak sumber pekerjaannya. Pada jaman prasejarah kenapa pinggiran sungai dan pantai lebih banyak dihuni manusia ketimbang di hutan. Sebab sungai dan pantai memiliki sumber-sumber kehidupan lebih banyak didapat, khususnya air.
Hukum alam dari makluk hidup adalah mempertahankan dan melanjutkan hidup. Makanya secara alamiah sumber-sumber kehidupan pasti banyak dikunjungi dan dikerumuni oleh makluk hidup khususnya manusia. Dari itu seluruh warga Nusantara mengibaratkan Jakarta seperti gula bagi semut.

Penyebab utam tradisi Mudik di Indonesia
Gagalnya Negara dalam melakukan pemerataan ekonomi adalah penyebab utamanya Tradisi Mudik. Sentralisasi pembangunan ekonomi di Ibu kota dan kota-kota penyangganya seperti Bekasi, Depok, Bogor, dan Karawang menjadi penyedot urban orang-orang di daerah untuk mencari kerja dan mengadu nasib dengan cara merantau.

Negara harusnya mampu melakukan pengendalian urbanisasi dengan cara membuka lapangan kerja berdasarkan kekayaan alam dan tradisi kebudayaan daerah yang bercorak kerakyatan, agar perputaran ekonomi daerah mamapu menjadi rem bagi pandangan tradisi rantau.

Larangan Mudik di Tengah Pandemi
Adanya kekawatiran negara mengenai munculnya penyebaran covid-19 pada cluster mudik di hari Raya Lebaran menjadikan Negara memutuskan Larangan Mudik, bahkan dengan pengetatan-pengetaan yang luar biasa. Jika di lihat akar penyebab tradisi mudik dari uraian di atas harusnya Negara sendiri yang bertanggung jawab.

Pembatasan kerumunan untuk hari ini kiranya sudah tidak lagi relevan untuk dilakukan. Dalam hal ini ternyata Negara tidak lagi fer memperlakukan rakyatnya pada pembatasan kerumunan itu sendiri. Kerumunan yang sifatnya kecil seperti kgiatan-kegiatan pendidikan, kebudayaan dan ekonomi kecil lebih diperketat bahkan cenderung dilarang dibanding melakukan kerumunan yang sifatnya besar tiap harinya, yaitu kegiatan produksi di Pabrik. Padahal sampai sat ini di Karawang sendiri Cluster Penyebaran Covid terbesar adalah Cluster Pabrik.

Langkah terbaik bagi pengendalian penyebaran covid-19 sebenarnya bukan pada proteksi eksternal manusia seperti membatasi kerumunan, tapi lebih pada proteksi internal manusia yaitu vaksinasi. Terlepas banyaknya pandangan tentang vaksin adalah bisnis terbesar global di tengah pandemi covid-19, hal yang paling masuk akal bagi penyetopan penyebaran covid-19 adalah Negara harus mempercepat dengan secapat-cepatnya proses vaksinasi ini.

Pesan Untuk Negara
Narasi yang beredar di tengah masyarakat “Corona tahun depan pasti masih ada, tapi orang tua di kampung tahun depan belum tentu masih ada”, sebenarnya dalah pukulan keras tentang kemanusian bagaimana masyakat urban memelihara hubungan sosial keluarga dengan kampungnya jika mudik terus dilarang.
Komentar

Tampilkan

Resensi

+