masukkan script iklan disini
Ditulis oleh: Khamid Istakhori (Sekretaris Jenderal Federasi SERBUK Indonesia)
Penyakit akut yang melanda pimpinan serikat pekerja saat ini adalah ketiadaan tujuan jangka panjang. Mereka, terjebak pada dilema berkepanjangan karena tidak memiliki perjuangan jangka panjang, serikat pekerja mengalami kebingunan dan tidak paham, untuk apa mereka berserikat. Tak heran, kalau kita melihat aktivitas berserikat akhirnya terjebak dalam gerak mekanik. Menemukan kontak, membentuk serikat, menyusun tuntutan, mengirimkannya ke kantor disnaker, lalu menunggu. Tuntutan yang diajukan juga hal-hal yang relatif sama terkait: upah, status hubungan kerja, upah lembur, BPJS, dll.
Kekosongan pendidikan politik, akhirnya menjadikan serikat pekerja kering imajinasi dan kesulitan dalam merencanakan cita-cita jangka panjangnya. Cita-cita jangka panjang tersebut, bukan berhenti pada masalah-masalah yang terjadi saat ini, tapi lebih pada upaya untuk membongkar akar masalah dan menemukan solusinya. Pelajaran berharga sebenarnya telah dicontohkan serikat-serikat pekerja di belahan dunia lainnya, di Eropa, Australia, dan Amerika ketika mereka berhasil mendudukan kepentingan mereka dan memaksa pemerintah untuk memenuhi kepentingan kelas pekerja.
Serikat pekerja, saat ini, biasanya akan puas dan berbesar hati apabila telah melewati sebuah kemenangan kecil di level pabrik. Padahal, semua itu sifatnya hanya sementara. Bisa saja, perubahan politik akan merampas semuanya seperti yang telah dialami ketika PP 78/2015 tentang Pengupahan disahkan atau tiga surat edaran Menteri Ketenagakerjaan diberlakukan. Lalu, serikat pekerja hanya berkutat pada masalah-masalah normatif saja. Berputar-putar dalam “jebatan batman” yang disiapkan pemerintah, semisal mengandalkan pilihan PPHI sebagai jalan utama. Sungguh, sangat normatif! Kering imajinasi dan tidak mampu memikirkan bagaimana perubahan 10, 15, atau 20 tahun ke depan.
Seandainya berani memetik pelajaran penting dari serikat-serikat pekerja di belahan benua Eropa, Australia, dan Amerika, kita bisa memetik pelajaran penting. Muara dari semua masalah bukan hanya ada di pabrik atau satu kota, tapi semua diputuskan oleh pemerintah pusat dan kongkalikong dengan parlemen yang mengatur sedemikian rupa sehingga menjadikan kelas pekerja selalu kalah. Kesadarannya harus dibangun bahwa hanya dengan membangun alat politiknya saja yang akan mengantarkan mereka pada jalan kemenangan; bukan ndompleng partainya kelas pemodal; seperti yang lazim dipertontonkan saat ini.
Kekosongan pendidikan politik, akhirnya menjadikan serikat pekerja kering imajinasi dan kesulitan dalam merencanakan cita-cita jangka panjangnya. Cita-cita jangka panjang tersebut, bukan berhenti pada masalah-masalah yang terjadi saat ini, tapi lebih pada upaya untuk membongkar akar masalah dan menemukan solusinya. Pelajaran berharga sebenarnya telah dicontohkan serikat-serikat pekerja di belahan dunia lainnya, di Eropa, Australia, dan Amerika ketika mereka berhasil mendudukan kepentingan mereka dan memaksa pemerintah untuk memenuhi kepentingan kelas pekerja.
Serikat pekerja, saat ini, biasanya akan puas dan berbesar hati apabila telah melewati sebuah kemenangan kecil di level pabrik. Padahal, semua itu sifatnya hanya sementara. Bisa saja, perubahan politik akan merampas semuanya seperti yang telah dialami ketika PP 78/2015 tentang Pengupahan disahkan atau tiga surat edaran Menteri Ketenagakerjaan diberlakukan. Lalu, serikat pekerja hanya berkutat pada masalah-masalah normatif saja. Berputar-putar dalam “jebatan batman” yang disiapkan pemerintah, semisal mengandalkan pilihan PPHI sebagai jalan utama. Sungguh, sangat normatif! Kering imajinasi dan tidak mampu memikirkan bagaimana perubahan 10, 15, atau 20 tahun ke depan.
Seandainya berani memetik pelajaran penting dari serikat-serikat pekerja di belahan benua Eropa, Australia, dan Amerika, kita bisa memetik pelajaran penting. Muara dari semua masalah bukan hanya ada di pabrik atau satu kota, tapi semua diputuskan oleh pemerintah pusat dan kongkalikong dengan parlemen yang mengatur sedemikian rupa sehingga menjadikan kelas pekerja selalu kalah. Kesadarannya harus dibangun bahwa hanya dengan membangun alat politiknya saja yang akan mengantarkan mereka pada jalan kemenangan; bukan ndompleng partainya kelas pemodal; seperti yang lazim dipertontonkan saat ini.


