Terkini Lagi

Iklan

Buang Ilusi New Normal Temukan Titik Balik Kebangkitan

Admin
Sabtu, 30 Mei 2020, 03:12 WIB Last Updated 2021-01-09T12:16:32Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


Ditulis oleh: Engkos (Sekjen - Serikat Pekerja Tani Karawang)

Setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar dilucurkan disejumlah daerah di Indonesia sebagai upaya menghadapi kejutan besar yang disebabkan oleh mikroorganisme tak kasat mata bernama korona, nampaknya upaya tersebut belum cukup ampuh untuk menjinakkan virus menjengkelkan itu. Kebingungan pemerintah karena sukar menaklukan korona, kemudian memaksanya untuk mengayunkan langkah kebijakan lain.

Berangkat dari teorema kurva angka penyebaran virus, pemerintah meramalkan bahwa puncak korona akan terjadi pada bulan ini (mei). Sebuah ramalan yang tidak memiliki alat ukur akurat tentunya. Dengan demikian, tidak salah  bila dipenghujung bulan ini kita pertanyakan kembali ramalan tentang puncak korona. Sampai kapan Indonesia dilanda korona? Berapa orang lagi yang mesti menjadi tumbalnya? Bagaimana dengan ledakan pengangguran karena PHK? Siapa yang punya uang? bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan? Bagaimana penampilan Indonesia? Pelajaran apa yang bisa kita petik dari Negara-negara lain?

Mungkin saja pemerintah enggan menjawab pertanyaan atau melempar alasan-alasan absurd atas ramalan puncak korona yang pernah disampaikannya itu karena menyadari kekeliruan dalam pola penanganannya. Guna menutupi segala kekeliruannya, kini pemerintah sedang gencar-gencarnya memperkenalkan sebuah istilah yang pernah populer di Amerika Serikat sekitar satu dekade lalu. Istilah/jargon yang nyaris menciptakan Proverb kontemporer itu bernama new normal yang diadopsi pemerintah setelah menemukan jalan buntu membasmi korona. Dari sifatnya yang metaphor, termino ini masih relatif asing ditelinga masyarakat Indonesia. Sehingga malah mengundang banyak penafsiran sejumlah kalangan sebab apa yang diucapkan tidak bermakna literal melainkan ada makna yang memiliki dimensi lebih luas. istilah ini lalu diselaraskan pada sebuah jargon “berdamai dengan korona”yang belakangan diangkat ke atas meja kebijakan publik dalam rangka percepatan penanganan covid-19 pada pijakan perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal.

Barangkali new normal telah mengilhami keputusasaan para pemimpin Indonesia bermula dari Tim dokter dari University of Kansas Health System yang kembali mengangkat slogan new normal dimasa pandemi ini. Arti dari istilah itu sendiri sebetulnya tidak memiliki relevansi langsung dengan tema konkrit upaya percepatan penangan covid-19. New normal dirujukan pada pengertian dasar "kelaziman baru" dengan berpijak pada perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal yang harus ditumbuhkembangkan dimasa force majeure seperti sekarang ini atau lebih tepatnya lagi memutuskan hidup berdampingan dengan sang pencabut nyawa, korona. Adapun skenario new normal bertumpu pada target penurunan reproduction rate (RO) atau daya tular virus SARS-CoV-2 di bawah 1 yang artinya satu penderita tak menularkan ke orang lain.

Agar dapat menangkap makna sesungguhnya dari new normal, kita akan mencermati kalimat-kalimat dalam pernyataan Jokowi mengenai new normal secara idiomatik mengesankan pokok pikiran terhadap kelangsungan perekonomian Negara yang saat ini sedang mengalami stagnasi agar kembali pulih-produktif, menjadi yang paling utama. "Kita ingin tetap produktif tapi aman COVID, oleh karena itu kita harus berdampingan dengan covid". Hal ini pun dapat dilihat dari sejumlah titik kunjungan Jokowi beberapa hari lalu dalam rangka launching new normal seperti di Mal Summarecon Bekasi dan Stasion Moda Raya Terpadu (MRT) Bundaran HI, Jakarta. Dari kedua tempat tersebut bisa kita simpulkan sebagai simbol sarana kegiatan bisnis yang akan digiatkan kembali setelah beristirahat beberapa waktu. jadi, signifikansi yang dimaksudkan pemerintah dalam new normal adalah bagaimana masyarakat bisa beradaptasi dengan bahaya infeksius korona dengan mengedepankan kedisiplinan menjalankan protokol kesehatan, meskipun pemerintah sadar bahwa virus ini tidak akan hilang sampai kelak vaksin ditemukan sekalipun. 

Kita tahu bahwa keadaan kahar ini adalah keadaan dimana rakyat sedang dibayang-bayangi kematian infeksius dengan keadaan terhuyung-huyung tanpa kepastian, tanpa uang dan pekerjaan. Namun pada waktu yang bersamaan berderap langkah kebijakan ekonomi disertai dengan restorasi TNI/POLRI––prilaku militeristik yang sebenarnya sudah usang––untuk turut mendukung terciptanya suasana tertib dan sisiplin yang tentunya akan kontraproduktif dengan pembangunan tatanan baru yang lebih baik seperti yang diilusikan pemerintah. Sedangkan kesatuan tindakan medis yang mencakup kesanggupan laboratorium pusat-pusat riset untuk menemukan obat dan vaksin; Medical Check Up bagi setiap warga Negara; membangun big data kesehatan, adalah kebutuhan primer penanganan pandemi ternyata tidak pernah sungguh-sungguh dijalankan pemerintah. Padahal saat ini manusia masih berada dalam cekaman korona yang nampak enggan menyudahi infeksinya. Sementara pada kerangka diksi, new normal mendapat pengelaborasian makna untuk mewakili ungkapan suatu gagasan mengenai sikap dan prilaku hidup baru; menggunakan masker; menghindari kerumunan serta penjarakkan fisik dan lingkungan, untuk diterapkan dalam aktivitas sosial juga ekonomi. Jadi tidak tepat apabila new normal dijadikan instrumen pemulihan ekonomi menjadi pilihan utama sedang penanganan virus korona menjadi aspek skunder.

Baiklah, berkenaan dengan hal di atas, mari kita uji ikhwal new normal itu sendiri sebagai suatu ekspektasi besar dengan menengok kebelakang untuk melihat kembali ungkapan new normal yang seolah menempati kedudukan luhur. Bila kita lacak asal usul term new normal kita bisa jumpai dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Rich Miller dan Matthew Benjamin berjudul "Post-Subprime Economy Means Subpar Growth as new normal in U.S." Artikel tersebut dimuat di Bloomberg pada 18 Mei 2008. Sejak terbit tulisan itu, istilah new normal kemudian begitu massif dipublikasi oleh ekonom borjuis yang diklaim sebagai sarat jalan keluar atas krisis keuangan di AS yang telah menciptakan gelombang mengejutkan bagi ekonomi dunia yang ditandai oleh rasio hipotek subprime dan turunannya sekaligus meneguhkan kredo terhadap tatanan kapitalisme dunia yang harus sesegera mungkin keluar dari kubangan krisis.

Sedikit berbeda dengan apa yang disampaikan Paul Glover dalam tulisannya yang berjudul "Prepare for the Best", resesi adalah suatu kejutan yang kemudian menarik perhatian Glover untuk mengenal lebih jauh situasi aktual tentang tatanan hijau yang menurutnya sungguh memprihatinkan. Dalam ungkapan "Gotta Find a Better Way" (Harus Menemukan Cara yang Lebih Baik) Oleh Glover, new normal diarahkan untuk menjadi pedoman bagi warga Philadelphia yang sedang berada dalam  keadaan depresi juga tengah menghadapi isu pemanasan global berikut memberikan pesan mengenai keseimbangan lingkungan untuk  masa depan dunia.

Di tahun berikutnya kita akan mengingat kembali momen kuliah Per Jacobsson yang disampaikan oleh kepala PIMCO , Mohamed A. El-Erian , berjudul "Menavigasi New Normal di Negara-negara Industri". Dalam ceramah itu El-Erian menyatakan bahwa Penggunaan istilah itu olehnya adalah upaya untuk memindahkan diskusi di luar dugaan bahwa krisis itu hanya luka daging bukan krisis yang terpotong menjadi tulang. Ceramah El-Erian dalam kuliah Per Jacobsson tersebut diadakan 10 Oktober di auditorium Korporasi Keuangan Internasional di Washington, D.C., bersamaan dengan Pertemuan Tahunan IMF dan Bank Dunia. El-Erian menekankan new normal ini terhadap Negara-negara industri akan bisa menggantungkan harapannya ditengah transisi krisis sekaligus mengangkat lembaga-lembaga donor seperti IMF dan WB sebagai dewa penyelamat.

Sejak kemunculannya, new normal seringkali berpijak di atas landasan perubahan mengejutkan yang dianggap sebagai masa-masa sulit oleh banyak pihak. Rosabeth Moss Kanter dalam tulisannya “Surprises Are the New Normal; Resilience Is the New Skill”, memberikan penajaman fungsi terhadap kejutan-kejutan baru yang dihadapi sebagai titik normal yang baru. New normal kemudian memperoleh makna secara universal namun sedikit mengawang sebagai kekuatan global dalam memulihkan keadaan yang buruk agar kembali menjadi baik.

Istilah new normal yang kembali menggema dimasa pandemi ini harus kita teliti dengan cermat substansi dan tujuannya. Pada konteks pandemi yang mengejutkan dunia sebagai start point new normal bukan terletak pada ukuran derajat hidup manusia sebagaimana gambaran di atas seperti merosotnya tingkat ekonomi atau degradasi lingkungan melainkan duka cita dunia teramat dalam karena berakhirnya kehidupan ratusan ribu manusia serta antrian kematian manusia berikutnya. Dengan begitu new normal hampa kandungan pengertian upaya menyudahi antrian kematian dengan cara melumpuhkan virus korona sekaligus mendialektiskan segi-segi kehidupan manusia.

Siapa yang diuntungkan?
Sebagaimana disebutkan di awal, bahwa semangat new normal adalah semangat membangkitkan ekonomi dari keterpurukannya bukan semangat mencegah manusia dari kematian oleh virus. Namun meski demikian pemerintah tetap enggan mendudukkan new normal pada tumpuan kepentingan ekonomi rakyat (kelas bawah) di atas kepentingan ekonomi borjuis (pemilik capital). Dari celah kecil kita masih bisa mengintip suatu kelangsungan tentang segelintir orang yang berbinar-binar matanya menatap peluang; sekian banyak orang dari mereka tengah menyongsong resiko besar (high risk); sebagian lagi masih berjalan lambat. Semua itu adalah usaha menuju masa depan yang jauh lebih baik.

Memungut satu dari sekian banyak contoh untuk menyodorkan dugaan atas tujuan ekonomi kalangan tertentu, demikian penting. Hingga kita menemukan ketidakmampuan pemerintah atasi kerawanan pangan serta menahan gelombang PHK yang bertubi-tubi di masa pandemi yang tak pernah diakuinya sebagai suatu kegagalan. Alih-alih mengetatkan perlindungan buruh, rasionalisasi hendak dipaksakan pemerintah masuk kealam pikiran sebagai suatu kelaziman baru yang mesti diterima oleh kaum buruh. Keadaan ini pula lah kemudian membuka segala rangkaian kemungkinan buruk bagi rakyat yang bisa dilazimkan termasuk di dalamnya projek besar Omnibuslaw untuk segera menyusul diinjeksikan kedalam agenda new normal untuk selanjutnya diterima sebagai sesuatu yang lazim dan rasionil.

Menerawang Jalan
Sudah cukup banyak hak yang dilarikan dari diri kita. Hak kolektif, hak mobilisasi untuk mengemukakan pendapat dimuka umum, hak bercengkrama hingga hak bermunazat di tempat ibadah untuk memuji keagungan tuhan. Hak-hak itu sedang diuji kesetiannya sementara waktu agar tidak berpaling, hanya demi keutamaan hak lain yang paling dasar, yakni hak bertahan hidup ditengah kesulitan.

Namun ketika banyak orang yang berdedikasi terhadap situasi yang sulit, upaya menyelesaikan urusan covid-19 mau tidak mau harus inhern dengan pembangunan tatalaksana kesehatan rakyat. Sebab, virus merupakan bagian alamiah dalam kehidupan manusia di alam semesta ini yang akan muncul dan sebagian darinya dapat menginfeksi dan membunuh manusia disepanjang garis sejarahnya.

Karenanya, tatalaksana kesehatan tidak melulu terbatas pada upaya kesehatan (preventif) agar rakyat tahan menghadapi kesulitan dan siap menghadapi virus-virus lain dimasa mendatang tapi juga berkaitan dengan sarat-sarat kesiapan menghadapi dampak-dampak perubahan iklim/cuaca; bencana alam besar; kebijakan politik; sepak terjang entitas bisnis yang menebar gangguan kesehatan serta prilaku individu yang dimungkinkan dapat menyebabkan dirinya rentan terhadap gejala kesehatan juga membahayakan orang lain. Demikianlah, ibarat dalam satu perjalanan panjang yang tertahan pilihan arah, kita harus berhasil menemukan titik balik paling rasional yang menggambarkan kemampuan dan pencapaian umat manusia saat ini dan upaya untuk melukis gambar masa depan. Jalan itu, bukanlah new normal yang terjal penuh risiko, ilusi serta pemaksaan.
Komentar

Tampilkan

Resensi

+