masukkan script iklan disini

Menutupi
tubuh dengan pakaian adalah cara manusia untuk melindungi tubuhnya dari
pengaruh eksternal yang kurang baik bagi tubuh itu sendiri, seperti
sengatan matahari, angin malam dan benda-benda yang dimungkan dapat
menggores dan melukai tubuh. Disamping itu pakaian juga berfungsi
melindungi bagian tertentu (paling privasi) dari tubuh agar manusia bisa
dikatakan sopan, bermoral dan beretika.
Bila
pakaian yang membungkus politik pemilihan (elektoral) itu adalah
demokrasi, bagian paling privasi itu adalah uang. Uang menjadi alat
vital dari tubuh politik oligarki yang hendak dipergunakan dalam
hubungan intim di ruang tertutup dengan tujuan reproduksi guna
melestarikan generasi kekuasaan oligarki itu sendiri.
Bagaimana kita bisa melepaskan demokrasi itu dari tubuh politik oligarki?
Menelaah Kembali Makna Demokrasi
Sebagian
orang meyakini asal-usul demokrasi berasal dari bahasa Yunani yang
terdiri dari demos (rakyat) dan kratos (kekuasaan). Bila kekuasaan
pemerintahan sebagai atap bangunan politik maka tiang pancangnya adalah
suara mayoritas rakyat. Demokrasi kerap diartikan sebagai kekuasaan
memutus perkara dan pilihan atas dasar aturan oleh mayoritas.
Jika
demikian halnya, Josiah Ober memandang, demokrasi akan menghadapi
dilema: sebagai sistem politik yang direduksi menjadi sekedar mekanisme
pengambilan keputusan berdasarkan voting, dan jika secara inheren voting
mengandung cacat sebagai mekanisme pengambilan keputusan, maka
demokrasi secara inheren juga cacat sebagai sistem politik (Kenneth
Arrow,1963; Anthony Downs,1957).
Dalam
hal ini jelas bahwa demokrasi tidak bisa proyeksikan pada pengertian
sempit pada perkara pilih memilih yang sering kali dianggap sebagi hak
rakyat.merujuk pada pandangan Justinus Prastowo (melacak makna
demokrasi:2009), terdapat tiga arti bagi kratos, yang merentang dari
“dominasi”, “aturan”, hingga “kapasitas”. Melalui analogi pada istilah
Yunani isokratia yang berarti akses yang sama bagi warganegara terhadap
barang publik, kratos berarti kekuasaan publik mewujudkan kebaikan umum
melalui pelaksanaan hal-hal baik di ranah publik.
Justinus
selanjutnya menegaskan bahwa petaka bagi demokrasi adalah ketika ia
gagal setia pada makna asli. Lebih mengkhawatirkan jika demokrasi yang
telah direduksi ini dianggap sebagai satu-satunya pilihan yang ada,
hanya karena bercermin pada partisipasi dalam pemilihan umum yang
dianggap mewakili mayoritas.
Sementara
legitimasi mayoritas selalu bertumpu pada hak termasuk didalamnya
mengemukakan pendapat, mobilisasi massa dan mobilisasi suara di TPS.
Hampir setiap orang memiliki hak tersebut, namun dalam keadaan tertentu
bisa jadi harus rela ditangguhkan seperti pada masa pandemi. Dengan
begitu demokrasi harus bertumpu pada kebenaran dimana demokrasi berwujud
kemampuan kolektif untuk bertindak mewujudnyatakan kebaikan umum.
Politik
Pemilihan selalu dibungkus dengan baju demokrasi untuk melindungi diri
dari factor-faktor eksternal yang merugikan. Ada baiknya kita telanjangi
tubuh politik itu agar kita bisa melihat secara langsung bagian paling
privasi dari tubuh politik electoral tanpa perlu kaca pembesar.
Sehingga, demokrasi tidak layak melekat pada tubuh politik electoral
oligarki.
Pertaruhan Uang dan Kecurangan
Ketika
kita berhasil melucuti demokrasi dari tubuh politik oligarki, maka kita
akan melihat dengan jelas bahwa alat vitalnya itu adalah uang, yang
diintimkan pada: (i) upaya untuk memperoleh dukungan partai politik
sebagai sarat seseorang menjadi calon harus membayar mahar dengan nilai
yang tinggi. Mahar juga berlaku kepada lembaga-lembaga masyarakat yang
hendak menjadi barisan pendukungnya (ii) calon harus menyediakan
sejumlah uang untuk membuat perangkat kampanye baik berupa alat-alat
peraga, iklan media dsb. (iii) membiayayi tim pemenangan/relawan untuk
keperluan sosialisasi dan propaganda secara massif, dan (iv) calon harus
membeli hati rakyat dengan beragam bentuk bantuan sosial (sarana olah
raga dan keagamaan) hingga dalam bentuk uang tunai (alakadarnya) agar
rakyat pemegang hak suara bersedia memberikan suara kepadanya di bilik
pemilu/pilkada.
Bukan
uang sedikit yang harus dikeluarkan oleh para calon agar bisa
bertengger dipapan nama kontestan politik. Uang itu akan terbuang
sia-sia bila calon mengalami kekalahan dalam gelanggang elektoral.
Karena itu, kekuatan uang akan selalu berjalan seirring dengan cara-cara
curang. Sebab, calon akan memperoleh banyak pundi-pundi keuangan bila
berhasil mendulang suara terbanyak dan dipastikan keluar sebagai
pemenang politik.
Mereka
yang keluar sebagai pemenang, secara otomatis memegang kekuasaan untuk
menyelenggarakan roda pemerintahan. Calon/kandidat dalam system
electoral oligarki yang memenangi pertempuran politik tanpa pertumpahan
darah dengan bersenjatakan uang tidak akan pernah memiliki perspektif
bagaimana mengajukan sarat-sarat kesejahteraan rakyat. Bagi mereka roda
pemerintahan akan dapat digerakkan dengan kekuatan uang (anggaran) yang
seperbesarnya bersumber dari pajak rakyat. Lalu pertanyaan paling
mendasar, berapa banyak uang yang dikeluarkan dalam politik pemilihan
serta dari mana sumbernya dan berapa lama uang bisa kembali?
Mari
kita jawab. Begitu ditetapkan sebagai bupati mereka disuguhkan
fasilitas yang fantastik diantaranya; (i) rumah dinas, kendaraan dinas
operasional dinas dsb. (ii) gaji yang tak sedikit. (iii) kewenangan
alokasi anggaran pada proyek-proyek besar pembangunan baik melalui
mekanisme penunjukan Langsung mau pun LPSE, adalah sumber utama
pendapatan pemenang dan (iv) perijinan yang diberikan kepada
perusahaan-perusahaan besar (investor) adalah buah manis lain dari pohon
kekuasaan. Dalam siklus periodik kekuasaan tentunya tak terkira jumlah
pundi-pundi rupiah yang diperolehnya. Tentang berapa besar yang didapat
selama berkuasa, hanya dia dan tuhan saja yang tahu.
Seperti
berjudi memasang lotre, hadiah akan diperoleh berkali-kali lipat bila
menang taruhan, itulah rumus politik elektoral oligarki saat ini, ia
berlaku disetiap jenjang kekuasaan termasuk legislatif didalamnya,
disini kita bisa mengambil pengecualian pemilihan ketua RT.
Pertanyaan
berikutnya, apakah buah manis kekuasaan hanya milik para pemenang?
Tentu saja tidak. Kelompok-kelompok kooperatif (pendukung/timses) dan
pengusaha juga turut memetik buah manis kekuasaan. Itulah yang membuat
rakyat masih tetap dirundung kemiskinan dan kebodohan.
Wahyudin Dipantara (Ketua Umum Serikat Petani Karawang)

