Banyak orang berpendapat bahwa kopi memiliki filosofi kehidupan. Barangkali pendapat tersebut berpangkal dari kemunculan karya sastra Dewi Lestari, sebuah buku fiksi berjudul "Filosofi Kopi". Terlebih cerita fiksi tersebut diangkat ke layarl lebar pada 2015 dan berlanjut rilis sequelnya 2 tahun kemudian.
Bisa jadi kopi yang sedang tren saat ini sebagai gaya hidup bersumber dari sana.
Rupa-rupanya kebanyakan orang (pemerhati dan penikmat kopi) telah hanyut kedalam ide moralitas filosofi kopi yang kemudian berkecenderungan bertingkah menyerupai orang-orang eropa seakan hendak menegaskan kedudukan sosialnya.
Namun pada posisi yang berbeda masih banyak konsumen kopi khususnya kalangan bawah yang bertahan pada argumentasi struktural. Mereka memaknai eksistensi kopi sebagai suatu tradisi pergaulan sosial dihadapan penikmat kopi kualitas tinggi hasil treatment tertentu dengan sajian khusus.
Jarang sekali orang berani jujur menilai eksistensi kopi berikut hal-hal yang melatarbelakanginya. Padahal kopi sedari awal kemunculannya abad 17 sebagai komoditas pasar hingga saat ini eksistensinya telah menjadi fenomena sosial dengan segala keunikan.
Meski demikian, filosofi dalam kopi bukan sesuatu yang absolut kecuali bila ia hendak diletakkan diatas kepentingan kalangan tertentu.
Dalam merkantilis eropa (Belanda), kita akan temukan bentangan sejarah yang mengerikan dimana penerapan Cultuurstelsel yang salah satu didalamnya adalah PEMAKSAAN pekerja tani untuk MENANAM KOPI sejak 1847 yang dimulai di Minangkabau. Sejarah HITAM kelam penindasan ketika itulah yang semestinya melatari filosofi Kopi dalam setiap tegukan kopi.
Paska kemerdekaan seluruh perkebunan kopi berhasil dinasionalisasi telah menyebabkan Belanda tak lagi menjadi pemasok kopi dunia. Tetapi bersamaan dengan itu kehidupan pekerja tani tetap PAHIT sebab Nasionalisasi tidak serta merta menjadi antitesis terwujudnya kesejahteraan pekerja tani.
Dan kini, pekerja tani hanya menjadi produser kopi mentah bagi tengkulak dan lintah darat penyedia bahan baku industri kopi kapitalis. Demikianlah, kopi masih tetap HITAM dan PAHIT bagi pekerja tani sebagaimana filosofinya.


